Sunday, May 27, 2012

Hari Bersamanya









Sheila on 7 adalah grup band yang saya suka.
Malam ini, saya menonton mereka di sebuah acara TV.
Mereka membawakan salah 1 lagu yang paling saya suka, Hari Bersamanya.
Lagu ini luar biasa indah menurut saya. 
Mengingatkan saya tentang bagaimana rasanya gugup menghadapi keindahan wanita.

Jantungku berdegup cepat.
Kaki bergetar hebat.
Akankah aku ulangi.
Merusak harinya.

Mohon Tuhan, untuk kali ini saja beri aku kekuatan tuk menatap matanya.
Mohon Tuhan, untuk kali ini saja, lancarkanlah hariku. Hariku bersamanya.

Ah, jatuh cinta. 
Malu-malu. Gengsi. Deg-degan. Mati-matian. Senyum-senyum sendiri. 
Khawatir. Cemburu. Berbunga-bunga. Malu-malu.

Efek Rumah Kaca berdusta jika berkata "Jatuh cinta itu biasa saja..."






Tuesday, May 22, 2012

Pukul 5 Pagi di Sukabumi

Saya selalu suka pagi. Namun sangat benci jika harus bangun pagi. Pagi hari memang diciptakan untuk orang-orang yang ingin menikmati ketenangan.

Saya lebih suka perpindahan malam ke pagi daripada sore ke malam. Karena makna pagi hari adalah menuju terang, bukan sebaliknya. Pagi hari adalah proses hijrah dari gelap menuju terang.  Menuju kemungkinan-kemungkinan baru. Menciptakan harapan-harapan baru. Awal dari pijakan menuju hari yang lebih baik.

Contohnya pagi ini, saya sedang berada di sebuah tempat yang jauh dari hingar bingar kota. Pagi ini, saya sukses menerobos rutinitas harian saya yang tidur Subuh bangun siang, menjadi  tidur malam bangun subuh. Sebuah prestasi tersendiri untuk mahluk malam seperti saya.

Suasana pagi disini, benar-benar membuat saya tenang. Udaranya jauh lebih segar dari Jakarta. Tanpa polusi, tanpa asap Kopaja yang menyebalkan. Sebuah suasana yang sangat jarang saya rasakan di Jakarta.  Ayam berkokok sesuka hati. Burung-burung memamerkan kebolehannya bersiul. Suara air mengalir menambah merdu orkrestasi alam ini. Semua berperan menciptakan harmoni yang tidak saling tindih. Merdu, saling melengkapi, sebuah masterpiece yang diciptakan oleh pengarang paling hebat sejagat raya. Lagi-lagi, saya harus takluk oleh alam.

Ahhhh… pagi ini saya kembali diingatkan Semesta bahwa hidup ini indah. Pagi itu indah. Masih bisa melihat wajah orang-orang yang saya sayangi itu indah. Keindahan seperti ini adalah kebahagiaan kecil dengan makna yang besar. Ya,  memperoleh kebahagiaan itu tak harus sulit dan mahal. Bahagia itu sederhana.

Hati kecil saya tersenyum seraya berkata, “Saya ingin menikmati pagi seperti ini ribuan kali lagi”. 


Sunday, May 20, 2012

Catatan Kecil Dini Hari

Hidup memang penuh kekecewaan. Semakin beranjak tua, semakin banyak kekecewaan yang kita alami. Ketika kita kecil, dunia yang kita hidupi adalah dunia yang ideal. Semakin kesini, kata ideal sepertinya sangat sulit untuk diucap. Kita harus kompromi untuk ratusan bahkan ribuan hal. Dari yang remeh, sampai yang esensial. Ketika manusia tidak bisa mencapai apa yang sesungguhnya dia inginkan, maka yang dihasilkan hanya kekecewaan. Terima saja, kita memang hidup untuk kecewa.

Namun saya mengerti satu hal, ada sebuah ruang pada diri kita, dimana ruang tersebut adalah ruang milik kita sendiri, dan hanya milik kita. Ruang yang membuat kita terus saja berjalan, menuju satu titik. Bahkan ruang itu juga bisa menjadi titik. Ruang itu, mampu menahan kita tetap tegak, meninggalkan hantaman-hantaman kekecewaan yang sudah kita terima. Ruang itu adalah sanctuary, tempat dimana kita bisa bersandar seutuhnya. Saya menyebut ruang itu sebagai IMPIAN.

Kekecewaan saya tak terhitung. Mungkin setara dengan jumlah pasir di pantai. Dari yang remeh sampai yang serius. Kekecewaan terbesar dalam hidup saya adalah tak bisa memberikan kebanggan pada orang tua. Saya masih sering membuat mereka sedih. Saya belum jadi apa-apa, padahal umur saya semakin beranjak.

Impian saya adalah sesuatu yang membuat saya bisa tetap menjalani hidup saya. Kekecewaan boleh saja menghampiri saya setiap detik. Tapi saya bisa pastikan 1 hal, bahwa impian saya lebih besar dari kekecewaan saya. Ketika saya gagal dalam suatu hal, saya akan segera bangkit. Saya akan berteriak sekuat tenaga, menjatuhkan setan-setan pesimisme yang bersemayam dalam diri saya, “MIMPI GUE LEBIH KUAT DARI INI! SILAHKAN LO JATUHKAN GUE, TAPI GUE AKAN SELALU BANGKIT! SELALU DAN SELALU!! LO GAK AKAN BISA MEREBUT MIMPI GUE!” Biar bagaimanapun, saya gak akan membuat kegagalan merenggut mimpi saya.

Sebagai manusia yang diberi kebebasan menentukan pilihan, memiliki impian adalah hal yang sangat penting. Karena seperti yang sudah saya sebutkan diatas, impian adalah hal yang membuat kita dapat terus berjalan, meneruskan hidup. Karena bagi saya, jika manusia tidak mempunyai mimpi, maka lebih baik ia berhenti saja jadi manusia dan beralih jadi malaikat. Ya, jadi malaikat yang tugasnya hanya melakukan apa yang diperintahkan. Benar-benar membosankan ya?

Ketika kekecewaan datang, ingatlah bahwa kita masih punya “sesuatu” yang lebih kuat dari kekecewaan tersebut. Dan yakinlah bahwa kita akan mencapai itu semua.

Mulai saat ini, bermimpilah yang hebat, karena itu akan menjadikan kita orang hebat.

Sukabumi, 18 Mei 2012. 02:43 pagi.

Monday, May 14, 2012

10 Film yang (mungkin) Terbaik

Saya sangat suka menonton film. Tenggelam dalam cerita yang disajikan dan membandingkannya dengan hidup yang saya jalani adalah sesuatu yang paling menyenangkan saat menonton film. Kita juga seringkali mendengar seseorang yang hidupnya berubah setelah menonton film. Kekuatan film memang luar biasa. Bahkan dulu saat Hitler berkuasa, terdapat Kementrian Propaganda yang salah satu tugasnya adalah membuat film untuk digunakan sebagai medium penyebar propaganda NAZI.

Selama 23 tahun hidup saya, saya telah menonton bermacam-macam film. Dari horor sampai komedi. Dari drama sampai musikal. Dari yang jelek ancur-ancuran sampai yang keren luar biasa. Mungkin jika saya kira-kira, sudah ada sekitar 500 film yang saya tonton. Kira-kira lho ya... Dari sekitar 500-an film itu, banyak film yang cerita dan tokohnya melekat di otak saya, bahkan sampai sekarang. Saya yakin Anda pasti juga merngalami hal yang sama seperti saya.

Tanggal 28 April kemarin saya mencoba membuat list 10 Film terbaik versi saya. Saya melakukannya setelah melihat Joko Anwar melakukan yang sama di Twitter. Saya tertarik lalu mulai mengingat film-film yang sudah saya tonton. Prosesnya sih gak lama, kira-kira 1 jam saya menulis dan menyusun daftarnya. Tapi dari situ aja saya udah menemukan semacam "konflik batin". Agak susah juga yah ternyata memilih 10 yang terbaik. Saya akhirnya ngerasain jadi juri Indonesian Idol, hehehe.... 

Lalu setelah saya menyelesaikannya, saya pun mem-posting daftar tersebut di Twitter. Ketika itu saya pun berpikir, "Wah, postingan ini bisa dimasukin ke blog nih!". Akhirnya, saya memutuskan untuk menulis ini di blog. 

Baiklah pembaca yang budiman, inilah 10 Film Terbaik menurut saya.

10. 3 Idiots (2009)



Film ini sederhana sekali. Menceritakan tentang perjalanan hidup 3 sahabat dengan latar belakang, idealisme, dan impian yang berbeda-beda. Temanya sederhana tapi cara menyampaikannya yang gak sederhana. Ceritanya mengalir dengan baik sehingga yang nonton pun terhibur. Konflik-konflik yang hadir juga dekat dengan keseharian. Segalanya pas, tidak ada yang berlebihan. Bagi saya, ini adalah film yang mampu memberi saya inspirasi setiap abis menontonnya. 

9. War of the Buttons (1994)


Film ini mungkin tidak terlalu terkenal, tapi film ini wajib masuk daftar saya. Jika ada film yang terakhir kali  Anda tonton saat Anda kecil dan hingga saat ini film itu tetap melekat di benak Anda, sudah pasti itu adalah film yang spesial, dan ini yang terjadi pada film ini. Saya ingat menonton film ini di rumah teman saya, hari minggu, beramai-ramai. Kami tertawa dan terharu bersama setelah menonton film ini. Filmnya sendiri menarik sekali. Menceritakan tentang 2 geng anak-anak dari 2 kota yang berbeda. Mereka selalu bermusuhan dan seringkali berperang di suatu hutan. Jika ada salah satu anggota musuh yang tertangkap, maka bajunya akan dilucuti, termasuk kancing bajunya lalu disuruh pulang dengan baju seadanya. Ceritanya seru, setting film-nya juga keren. Ini film tentang masa kecil yang diceritakan dengan indah. Oh iya, tahun 2011 kemarin ada remake film ini, tapi saya sendiri gak tau bagus apa enggak, karena belom nonton. 

8. Life is Beautiful (1997)




Ini adalah film yang sangat menggetarkan bagi saya. Emosi diobrak-abrik. Jika biasanya film yang berlatar belakang Holocaust NAZI diceritakan dengan brutal, kejam, dan tidak manusiawi, film ini melawan stereotip tersebut. Menceritakan tentang keluarga Yahudi yang hidup saat peristiwa Holocaust. Sang ayah adalah korban dari Holocaust dan dipaksa masuk ke kamp konsentrasi NAZI. Namun dengan sikap yang selalu optimis dan akal yang imajinatif, sang ayah tidak pernah membuat anaknya bersedih. Bahkan menciptakan "petualangan" sendiri untuk anaknya. Di akhir film ini, saya selalu nangis abis itu ketawa. Hehehehe...

7. Saving Private Ryan (1998)



Saya termasuk orang yang tidak terlalu suka film action dengan tema perang. Sehingga saya agak terlambat menyaksikan film ini. Saya baru nonton film ini ketika saya SMA. Pada saat permulaan film ini saya menduga film ini akan sama saja dengan film perang lain. Tapi ternyata dugaan saya salah. Film ini dari sisi cerita, berbeda dengan yang lain. Film ini tidak menceritakan perang, tapi rasa kemanusiaan yang ada di tengah medan perang. Hal itulah yang menurut saya menarik. Ditambah lagi aktor favorit saya, Tom Hanks, bermain dengan sangat baik di film ini. Membuat film ini tambah spesial menurut saya.

6. The Dark Knight (2008)



The Dark Knight. Film superhero yang sangat tidak superhero. Penggambaran superhero yang sangat manusiawi lah yang bikin saya suka. Ternyata Batman tidak setangguh fisiknya. Dia juga manusia yang terkadang merasa hampa, kosong, ragu-ragu, dan takut. Film bikin saya tersenyum dengan sangat, sangat, lebar selama lebih dari seminggu. Cerminan kepuasan saya sehabis menonton film ini. Luar biasa, unpredictable, seru! Film ini adalah kado dari Heath Ledger untuk umat sedunia. Dan ini adalah perpisahan yang sangat indah bagi Ledger. Ledger sangat-sangat sukses untuk menghidupkan karakter Joker yang lebih liar, lebih ngehe, lebih gila, dari Joker sebelumnya. Film superhero paling bagus yang pernah saya tonton!

5. The Cup (1999)



Tahun 99 saya masih umur 10 tahun. Saat itu saya nonton film ini di Plaza Senayan. Itu adalah pertama dan terakhir kali-nya saya nonton film ini. 13 tahun kemudian, saya masih ingat cerita dan beberapa adegan di film ini. Seperti juga War of the Buttons, film ini saya tonton saat saya masih kecil namun sampai saat ini film ini masih melekat di benak saya. Ceritanya sendiri berlatar belakang kuil Buddha di kaki Gunung Himalaya. Tahun 1998, Piala Dunia digelar dan beberapa biksu yang menyukai sepak bola tidak ingin ketinggalan momen itu. Mereka menikmati sepak bola dengan cara yang berbeda karena peraturan di kuil tersebut melarang mereka untuk begadang. Dari situ timbul keadaan-keadaan yang lucu dan menghibur. Biksu yang suka bola. Sebuah kondisi yang unik dan berhasil diangkat menjadi sebuah film yang sangat bagus menurut saya. Saya jadi semakin suka bola setelah menonton film ini.

4. The Truman Show (1998)





Pernahkah Anda berpikir kalo hidup Anda ternyata adalah sebuah reality show yang ditonton seluruh dunia namun Anda tidak mengetahuinya? Jika belum pernah, tanyakan bagaimana rasanya kepada Truman. Dari awal menonton film ini, saya tahu bahwa film ini akan menjadi salah 1 film terbaik yang pernah saya tonton. Saya suka idenya, ceritanya, aktingnya, musiknya, semua hal. Saya suka semua hal pada film ini. Di film ini, Jim Carrey berhak mendapat Oscar, atau minimal nominasi sebagai Aktor Terbaik. 

3. Forrest Gump (1994)


Forrest Gump adalah cerita tentang kesederhanaan. Yang paling saya suka dari film ini adalah bagaimana film ini menggambarkan tentang kisah hidup seseorang yang biasa-biasa saja, tidak istimewa, namun selalu dinaungi keberuntungan karena hatinya yang polos dan tulus. Saya merasa hidup saya mirip dengan Forrest Gump. Saya bukan orang yang istimewa, tapi saya seringkali beruntung. Namun bedanya, saya tidak punya hati setulus Forrest. Huehehehe....
Banyak quote-quote dalam film ini yang sampai sekarang masih sering diumbar, menandakan kalo film ini sangat memorable. Pokoknya kalo abis nntn film ini, Anda akan masuk ke dunia Forrest, dunia yang
sederhana, namun penuh inspirasi.

2. The Godfather 1 (1972)



Saya jarang nonton film dengan tema mafia. The Godfather bisa dibilang film dengan tema mafia yang pertama kali saya tonton. Setelah nonton film ini, saya langsung sok-sok-an mau jadi mafia. Rambut klimis, pelihara kumis, sayang tampang saya terlalu manis untuk seorang mafia. Film ini alurnya lambat, tapi saya gak pernah bosen nontonnya. Konflik-konflik yang tercipta juga cenderung rumit, namun semua bisa diceritakan dengan baik, membuat penonton nyaman dan betah nonton film ini. Pokoknya kalo ngaku laki-laki, harus nonton film ini!

1. Shawshank Redemption


Begitu sampai ke urutan 1, saya jadi bingung pengen nulis apa. Saya pertama kali nonton film ini di Indosiar. Tengah malem sekitar jam 11. Sebelumnya saya tau film ini dari temen dan ketika itu dia ngerasa takjub dengan film yang ini. Beruntung gak lama kemudian, saya secara gak sengaja nonton film ini. Gak ada yang bisa ngalahin cerita, drama, dialog, konflik, akting, dan kejutan-kejutan yang ada di film ini. Semua disampaikan dengan sempurna: padat, mengalir, seru! Keren lah pokoknya!!! Yang menarik, Tom Hanks sebenernya adalah aktor yang ditawarin untuk maen di film ini, namun karena jadwal dia bentrok sama shooting Forrest Gump, dia gak bisa main di film ini.Tim Robbins akhirnya menggantikannya dan menjalankan tugasnya dengan sangat sangat baik! Pokoknya menurut saya, ini film yang paling keren sampai saat ini!

Fiuhh.... akhirnya selesai juga saya nulis post yang ini. Yaaaa setuju atau gak, itu terserah yang baca deh. Pokoknya penyusunan daftar ini sifatnya sangat sangat subjektif, mengikuti selera saya. Kalo ada yang gak setuju ya monggo bikin versinya sendiri.

Bikin list kayak gini, seru juga yah. Besok-besok bikin lagi ah......





Tuesday, April 17, 2012

Perasaan Menuju 5

Sore ini, tepat pukul 5, aku hanya duduk dan terpana.
Aku baru sadar, yang ke-5 sebentar lagi tiba.
Waktu memang aneh, dia tiba-tiba melesat cepat, begitu saja.
Meninggalkanku yang terombang-ambing, hampir tak bernyawa.

Saat yang ke-3, saat pertama aku bertemu.
Aku tak terlalu berharap, kubiarkan itu mengalir.
Namun Semesta tak ingin itu sekedar berlalu.
Maka merekatlah rasa itu, erat, kuat, tak hanya mampir.

Rasa itu yang telah lama hilang ditelan bingar.
Aku bahkan hampir tak mengenalinya lagi.
Dia pergi, mungkin karena terlalu sering dicecar.
Denganmu, sayang, rasa itu kembali.

Aku seperti narapidana yang sedang menunggu hukuman mati.
Satu per satu kegelapan, wajah yang pernah kusakiti, mulai menghampiri.
Aku tak bisa berpikir jernih, aku mulai kehilangan daya.

Jika ada kata yang mampu mendeskripsikan hal yang sedang kurasakan sekarang,
aku akan memberikan penemunya apa saja yang ia pinta.
Atau jika ada yang bisa membawaku pergi sejauh-jauhnya dan langsung ke-6,
aku rela melakukan apa saja untuknya.

Aku tak siap menghadapi kamu, yang akan berlalu.

Karena sayang, untuk memiliki rasa itu lagi lalu kehilanganmu,
adalah kehilangan terbesar yang aku rasakan sebagai manusia.


(Sore ini, tiba-tiba ada pesan di YM saya. Ternyata dari seorang sahabat. Ia sedang gundah, dengan segala yang ia hadapi. Maka ia meminta saya untuk menuliskan kisahnya. Karena saya sedang tak ada kesibukan, maka saya penuhi permintaannya. Huehehe...

Ia meminta tulisan dalam bentuk lirik yang nantinya akan ia jadikan lagu. Saya coba bikin, ternyata hasilnya seperti puisi. Hehehehe... sorry yes bro, maklum masih pemula.

Inti tulisan ini adalah..... hmm... apa yah... yaaa gitu lah... Coba aja dibaca abis itu tarik kesimpulan sendiri... Hehehe...

Jadi.... setelah menulis sekitar 2 jam dengan (sok) penuh penghayatan, ditemani kira-kira 5 batang rokok, inilah tulisan yang saya buat untuk Anda bung, semoga suka!)









Saturday, April 14, 2012

Jumat Malam yang Sedikit Berbeda

Jumat kemarin saya mencoba melakukan sesuatu yang berbeda di dalam rutinitas harian saya. Saya mencoba datang ke sebuah acara di TIM, bernama Kenduri Cinta. Acara ini dilaksanakan setiap bulan, hari Jumat minggu kedua.

Pukul 8 malam saya tiba di TIM. Setiap saya datang ke TIM, suasananya selalu sama, hangat dan penuh inspirasi. Banyak orang beraktivitas di area terbuka dekat pintu keluar. Ada pedagang yang asyik menjajakan dagangannya, ada anak-anak yang bermain dengan gembira, mahasiswa yang sibuk nongkrong, sampai warga sekitar yang khusyu duduk-duduk sambil merokok. Tempat ini selalu menyambut orang yang datang dengan tangan terbuka.

Malam itu sepertinya ada sebuah pagelaran teater, entah apa, namun disponsori oleh Djarum. Begitu kuatnya logo Djarum terpampang disana, sehingga saya sendiri pun hanya teringat sponsornya, bukan nama pagelarannya.

Pandangan saya jatuh kepada sebuah tenda yang berdiri tegak dekat pintu keluar, tampak crew Kenduri Cinta sibuk melakukan sound check. Terpal-terpal sudah digelar, namun acara belum dimulai. Maka saya dan teman saya memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Saya memutuskan untuk mencari makanan di luar TIM, karena kalau makan di dalem area TIM, bisa-bisa STNK saya ditahan karena gak sanggup bayar. Hehehe... Maka pergilah saya ke warung pecel ayam dekat toko roti legendaris Tan Ek Tjoan.

Pukul 8.30 kami kembali ke TIM, nampak acara Kenduri Cinta sudah dibuka dengan tadarusan. Saya merapat ke dalam area KC. Acara KC ini adalah acara yang sangat sederhana. "Venue" acaranya sendiri hanya tenda kawinan biasa. Panggungnya terbuat dari kayu yang letaknya di tanah, namun posisinya lebih tinggi dari penonton. Para peserta yang ingin mengikuti acara ini pun diberi tempat duduk berupa terpal yang digelar di tanah. Tak ada kelas festival, apalagi VIP. Semua sama. Semua orang duduk lesehan, mendengarkan orang-orang yang sedang membacakan Al-Quran. Saya duduk di tengah, posisi agak belakang, agar bisa melihat panggung dengan jelas. Suasana masih agak sepi, mungkin hanya sekitar 15 orang yang sudah tiba dan merapat ke panggung.

Setelah tadarusan, pembawa acara membuka dengan prolog tema yang akan dibahas pada malam itu, yaitu "Sumuk", satu per satu orang mulai berdatangan dan mengisi tempat duduk yang kosong. Saya juga turut mendengarkan agar bisa lebih menikmati pembahasannya nanti. Nampak pembawa acara berusaha untuk membawa mood orang yang hadir dengan celotehan yang bersahaja dan penuh canda.

Prolog selesai dan pembahasan pun dimulai. Pembicara mulai memaparkan apa saja yang berhubungan dengan tema tersebut, saya pun sedikit hilang konsentrasi karena pembicaraan sudah agak berat. Selama sekitar 30 menit pembicara berbicara, dibuka sesi tanya jawab. 3 orang bertanya dan menurut saya pertanyaan mereka adalah pertanyaan yang sangat berbobot. Ada seorang kakek yang datang sendiri dari Jawa Tengah. Ia memberikan pandangannya tentang kondisi sekarang. Yang menarik setelah ia berbicara dan ingin balik ke tempat duduknya, ia bertemu dengan temannya. Saya perhatikan lagi, tampak Kakek tersebut berbicara akrab dengan temannya tadi. Entah sudah berapa lama mereka tidak bertemu. Semesta telah berkonspirasi untuk mempertemukan mereka dalam acara Kenduri Cinta.

Ada juga seorang wanita yang berprofesi guru yang memberi tanggapan tentang topik ini, saya tidak terlalu ingat apa saja yang dia bicarakan, yang paling menarik perhatian saya adalah ketika ia bertanya, "Jika agama sudah tidak jadi solusi, lalu apa yang bisa kita harapkan untuk menyelesaikan semua?" Saya berpikir sampai saat ini, dan saya belum menemui jawabannya. Hehehehe...

Sesi pertanyaan selesai dan pembawa acara pun seperti mengerti kondisi penonton yang mulai jenuh, sehingga ini saatnya untuk memberikan sedikit penyegaran. Jadi diputuskan bintang tamu hari itu, Beben Jazz dari Komunitas Jazz Kemayoran beraksi. Dengan hanya bermodal 3 personil - 1 gitaris, 1 bassist, dan 1 drummer - Beben Jazz membawakan musik yang indah, spontan, dan sangat menghibur. Beben juga menceritakan sejarah musik Jazz, apa saja yang ia dapatkan dari musik ini, dan mengapa ia sangat menikmati musik Jazz. Pada satu kesempatan ia berkata, "Saya akan terus main musik dan bisa berguna untuk orang lain. Dan berhenti saja maen musik kalo itu tidak bisa mendekatkan diri kita kepada Tuhan." Kata-kata itu terpatri di hati saya sampai sekarang. Hehehe... Malam itu saya juga sangat beruntung bisa melihat kolaborasi antara Beben Jazz dengan Titi Sjuman. Titi bermain drum langsung dihadapan saya, dan ternyata dia jago banget! Hehehehe....

Pada acara KC kemarin, hadir Sekar Ayu Asmara dan Dewi Umaya. Mereka adalah sineas yang sedang membuat film Pasar Gambir. Film itu menceritakan tentang Ismail Marzuki, komposer, penyair, budayawan, pahlawan nasional Indonesia yang ternyata memiliki kehidupan menarik. Malam itu, saya baru tau kalau lagu nasional yang paling saya suka, Indonesia Pusaka, adalah ciptaan beliau.

Setelah kehadiran Sekar dan Dewi, diskusi dilanjutkan. Sesi kedua ini berjalan agak menarik, namun saya sudah mulai agak bosan. Jadi saya tidak terlalu ingat apa saja yang dibicarakan.
Namun rasa bosan saya hilang ketika Cak Nun akhirnya ikut menjadi pembicara. Bagi saya, aura dan kharisma Cak Nun memang berbeda dibanding yang lain. Dan jujur saja, salah satu alasan saya hadir ke KC adlah karena Cak Nun nya.

Cak Nun berbicara tentang berbagai macam hal. Dari mulai penamaan Malioboro, Al-Quran yang tidak ada celahnya, Tuhan yang menurut dia, "Maha Jazz", sampai kepada cerita tentang Nabi Muhammad. Yang bisa saya tangkap dari gaya berbicaranya adalah: dia pembicara yang ulung. Gaya bicaranya sederhana dan mudah dimengerti, namun dalam tiap kata ia mampu memberikan makna yang dalam. Ditambah lagi kharismanya yang besar. Mungkin kalau Cak Nun ikut MLM, dia sudah ada pada tingkat diamond 4.

Setelah Cak Nun berbicara, hadir 2 orang peludruk: Cak Kartolo dan Cak Safari. Mereka kembali menghidupkan suasana dengan banyolan-banyolan khas Jawa. Saya yang hanya sedikit mengerti bahsa Jawa sudah dibuat terpingkal dengan aksi mereka. Kebetulan disamping saya ada orang yang hampir sepanjang Cak Kartolo dan Cak Safari ngomong dia ikut tertawa. Terbahak-bahak pula. Saya jadi pengen belajar bahasa Jawa..... Cak Kartolo pun ikutan jamming dengan Beben Jazz. Kolaborasi yang unik dan sangat menghibur.

Lagu terakhir dari Beben Jazz adalah Kompor Meledug. Kami semua ikut berdiri dan menyanyikan lagu itu bersama-sama dalam suasana yang akrab dan membumi. KC malam itu ditutup dengan doa bersama. Seluruh orang yang hadir ikut berdiri memanjatkan doa yang dipimpin oleh Ustadz Nursamad Kamba.

Saya mendapatkan banyak ilmu dan wawasan malam itu. Dalam semalam saja saya mendapat ilmu tentang agama, politik, kemanusiaan, hubungan antar manusia, kenegaraan, sejarah Ismail Marzuki, sejarah Jazz dan filosofinya, sejarah Malioboro, obrolan-obrolan yang menginspirasi, kesabaran dalam menunggu (karena acara ini berlangsung sekitar 7 jam), dan banyak lagi.

Namun hal terpenting yang saya dapatkan malam itu adalah: keyakinan akan perjalanan bangsa Indonesia. Saya yakin Indonesia tidak akan pernah benar-benar "gelap" selama acara seperti ini masih ada. Bagi saya, KC adalah pelita. Pijaran-pijaran ilmu yang telah dinyalakan, tak akan pernah berhenti dan mengendap. Dia akan selalu mengalir..... menjadi penawar bagi racun kehidupan yang kita jalani.

Malam itu setelah 7 jam duduk di terpal, disuguhi keakraban yang mengalir dan ilmu yang segudang, saya memutuskan untuk hadir lagi pada acara selanjutnya.

PS: yang mau lihat liputan lengkap dari KC kemarin, sila lihat disini: http://kenduricinta.com/v2/?p=1456

Friday, March 16, 2012

Ketika Senja

Kita terlalu sombong.
Kita terlalu sering menghakimi.
Kita terlalu sering menghujat.
Kita terlalu sering menjelekkan.
Dan kita terlalu lama hidup dalam kenyamanan akan segala hal diatas.

Sesungguhnya manusia adalah mahluk yang lemah.
Mahluk yang bodoh.
Mahluk yang penuh kesalahan.
Mahluk yang saling menyakiti.
Mahluk yang tidak bersyukur.
Dan kita tetap kukuh mempertahankan semua hal diatas, yang semestinya bisa diubah.

Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku ubah?

Untuk apa aku hidup? Untuk saling menyakiti? Untuk memenuhi semua ambisi? Untuk berguna bagi orang lain? Untuk memamerkan kehebatan masing-masing? Untuk tertawa dalam sunyi? Untuk bersedih dalam bingar?

Apa makna kehadiranku bagi orang lain? Agar mereka tertawa? Agar mereka bisa membandingkan dengan dirinya? Agar mereka bisa menghina? Agar mereka punya tempat berbagi? Agar mereka bisa menjadikanku alat? Agar mereka tahu bahwa ada manusia dengan sifat seburuk ini? Atau justru tidak ada makna apa-apa?

Untuk apa manusia diciptakan?

Manusia adalah mahluk yang unik. 5 milyar jumlahnya, tak ada satupun yang benar-benar sama. Setiap organ yang ada, setiap sel-sel yang bekerja, setiap zat yang terbentuk, setiap roh yang ditiupkan, dan setiap wujud yang ditampakkan, memiliki perhitungan yang sangat matang dan terperinci. Sungguh, profesor paling hebat di jagad raya juga tak akan bisa menandingiNya.

Kok bisa-bisanya merasa lebih hebat dari orang lain. Kok bisa-bisanya merasa superior. Kok bisa-bisanya menghakimi sesama. Kok bisa-bisanya pamer ini, pamer itu. Kok bisa-bisanya merasa yang paling tahu.

Kita sungguh berbeda. Sungguh-sungguh berbeda.
Namun, aku mulai paham kenapa manusia diciptakan berbeda. Untuk saling mengisi. Untuk saling memahami. Untuk saling mencintai. Untuk saling mengerti.

Pergolakkan sesama manusia pasti akan hadir selamanya. Namun aku percaya, jika kita bisa memahami maksud Semesta menciptakan kita, semua akan lebih jernih.

Sebelum menghakimi dan menjatuhkan, lebih baik sadari bahwa kita tak lebih dari debu.

Semestinya, setiap dari kita menilai sesuatu dengan biasa-biasa saja. A dan B. Baik dan buruk. Hitam dan putih. Benar dan salah. Semuanya tak ada yang hakiki.

Ada dan tak ada pun tak hakiki.
Yang ada cuma jiwa manusia yang tersesat dalam kebodohan yang dibuatnya sendiri.

Terima saja, kita adalah individu yang menyedihkan.
Karena terlalu sering berbicara tanpa hati. Melihat tanpa mendengar. Dan bertindak tanpa akal.

Maafkan aku, Semesta.

Wednesday, March 14, 2012

15 Menit Lagi

Waktu nulis ini, saya lagi sendirian di kantor. Penunjuk jam di pojok kanan atas komputer saya menunjukkan angka 4:46 pagi. Di kantor selarut ini, ngapain? Saya dan kedua orang copywriter lainnya sedang mengerjakan presentasi yang akan di presentasikan jam 11 pagi ini. Mereka sudah lelap, saya masih seger. Efek sering begadang. Hehehe...

Wah sudah jam 4:48, itu berarti waktu saya tersisa 12 menit lagi untuk bercerita.
Ini hari kedua berturut-turut saya lembur, dan anehnya saya tidak merasakan penderitaan apapun. Saya tidak merasa ini berat, saya tidak merasa ini menjengkelkan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Confusius dalam salah satu quote-nya, "Choose a job you love and you will never have to work a day in your life".

Ah, diantara suara keyboard dan exhaust fan yang saling menindih. Dikala fajar mulai mengintip untuk memamerkan sinarnya, saya temukan sekeping kebahagiaan. Dan ini adalah perasaan yang menyenangkan. Terima kasih semesta.

Jam menunjukkan angka 4:57, ini saatnya saya membangunkan mereka. Ini saatnya saya pulang ke rumah untuk melebur dalam nyamannya kasur. Sampai jumpa.


Wednesday, February 29, 2012

Dididik untuk jadi Robot

Saya ingat sekali masa-masa SMA saya. Bebas dan penuh tawa.
SMA kata orang-orang adalah masa yang paling indah. Penuh liku untuk menemukan jati diri. Sebuah masa yang penting, karena menjadi pijakan psikologis sebelum terjun di masyarakat. Saya sangat suka masa SMA saya.
Well, kecuali pendidikannya.

Sadar gak sih kalo selama ini pendidikan formal kita tuh gak bener?
Contohnya, kita dituntut untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang kita tidak sukai. Guru aja gak bisa nguasain semua ilmu. Coba saya tanya, ada gak guru SMA kalian yang ngajarin matematika, biologi, fisika, penjas, sekaligus? Gak mungkin ada kan? Jadi, kenapa kita dituntut untuk nguasain semua ilmu? Buat apa nguasain banyak pelajaran di SMA? Materi pelajaran sebanyak itu hanya berguna di pendidikan dasar. Setelah melewati pendidikan dasar juga akan terlihat kok minat orang tersebut di bidang apa.

Saya paling gak suka sama matematika. Karena pada dasarnya saya gak suka itung-itungan. Jadi, gak heran kalo nilai matematika saya di rapot SMA gak pernah bagus. Lah wong saya gak suka, kok tetep di jejelin! Ya gak bakal masuk dong. Terus karena matematika saya jelek, saya di cap sebagai murid yang bodoh. Hahaha kalo diinget-inget sekarang sih saya pengen ketawa aja. Buktinya ilmu itu gak ada yang kepake di bidang yang saya geluti sekarang.

Terus saya inget banget kalo dulu temen-temen saya berbondong-bondong pengen masuk IPA. Katanya jurusan IPA tuh jurusan buat murid-murid pinter doang, prestise-nya tinggi, gampang masuk universitas negeri dan alasan-alasan lainnya. Saya sih emang gak pernah minat sama IPA. Bagi saya, IPA membosankan. Dan, saya emang gak pernah suka sama ilmu pasti. Maka masuklah saya di jurusan IPS.

Semua juga tau lah kalo jurusan IPS agak di anak tirikan, bahkan oleh sekolah dan guru-gurunya. "Anak IPA pinter-pinter. Anak IPS bego-bego! Anak IPA soleh semua! Anak IPS bejat-bejat!" Itu tuh sterotype yang bikin kita semua gak maju. Saya sih gak peduli mau dibilang bego apa gimana, lah orang saya gak suka kenapa saya harus maksa buat masuk IPA? Eh ternyata anak-anak IPA di sekolah saya kuliahnya banyak yang gak nyambung sama jurusannya. Sia-sia banget gak sih?

Belom lagi sejak SD kita sudah di seragamkan. Mau buktinya? Waktu SD kita pasti di suruh bikin gambar gunung. Coba bandingkan, gambar kita pasti mirip kan satu sama lain? Ada gunung, jalan raya, matahari di tengah gunung, sawah hijau di sekitar jalan, dan burung yang berterbangan. Kenapa bisa gitu? Karena guru-guru mengajarkan itu! Kalo ada yang salah atau tidak seperti yang di ajarkan, guru kita akan marah. "Langit itu biru!" "Gunung itu bentuknya seperti ini!" "Matahari itu bulat!" "Sawah berwarna hijau!" dll. Jika ada anak yang menggambar matahari bentuknya kotak, atau langit berwarna hijau, pasti di-cap salah dan diberi nilai jelek. Aneh ya?

Sadar gak kalo dari dulu kita dididik untuk mengikuti pola ini: sekolah -> kuliah -> kerja jadi karyawan -> nikah -> mati.
Gak pernah tuh saya diajarin untuk jadi wiraswasta. Atau diajarin gimana caranya mengatur perusahaan sendiri.
"Kamu sekolah yang bener, biar pinter, biar dapet universitas yang bagus jadi kamu gampang nyari kerja. Kalo kamu udah kerja di perusahaan besar itu berarti kamu udah sukses." Pasti gak asing kan sama kata-kata diatas? Kayaknya hampir semua anak di Indonesia yang 1 generasi sama saya ngalamin yang serupa.

Saya tidak bilang itu buruk, namun omongan tadi adalah hasil "cuci otak" jaman orde baru. Karena definisi sukses kala itu adalah dapet kerja di perusahaan. Sebuah hal yang wajar, mengingat saat orde baru Indonesia membutuhkan banyak pekerja untuk membangun perekonomian. Sehingga orang-orang pada masa itu dididik untuk jadi karyawan hebat. Dan untuk diterima menjadi karyawan pada saat itu sangat sulit. Akhirnya timbul mindset bahwa orang yang mampu bekerja di perusahaan besar atau instansi pemerintah yang bergengsi, di cap sebagai manusia yang memiliki derajat tinggi.

Mindset kuno: Bekerja selamanya jadi karyawan adalah sebuah hal yang menjajikan masa depan cerah. Pensiun terjamin. Keluarga sejahtera. Hidup bahagia.
Mindset ini di wariskan turun temurun hingga generasi orang tua kita. Sehingga banyak orang yang terpaksa menjalani hidupnya dengan mindset seperti itu. Banyak orang yang sebenernya gak suka dengan pekerjaannya, namun terpaksa bekerja karena mindset itu.
Banyak orang yang jadi robot.

Bagi saya tidak seperti itu. Bagi saya kebahagiaan adalah menjalani apa yang kita suka dengan tekun dan sungguh-sungguh, sehingga kita dapat value dari apa yang kita kerjakan.
Love first, money will follow. Saya percaya jika saya mengerjakan apa yang saya sukai dan menjadi passion saya dengan sungguh-sungguh, sukses akan mengikuti dengan sendirinya. Saya lebih baik bekerja dengan gaji yang kecil tapi bahagia, daripada bekerja dengan gaji yang besar namun tidak bahagia. (Dan betapa beruntungnya saya, di tempat kerja sekarang saya dapat keduanya: kerjaannya menyenangkan dan gajinya pun lumayan).

Banyak kok orang-orang yang menekuni apa yang disukainya dan sukses, beberapa diantara mereka bahkan gak lulus kuliah. Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sean Parker, Bob Sadino, Hendy Setiono, Andy. F. Noya adalah beberapa diantaranya.

Generasi kita harus lebih maju daripada generasi sebelumnya. Jadi semestinya mindset generasi kita seperti ini: sekolah -> kuliah -> jadi karyawan -> cari pengalaman dan koneksi -> membuka usaha sendiri -> nikah -> mati

Saya lebih memilih menjadi wiraswasta yang memiliki usaha sederhana, daripada jadi karyawan perbankan bergaji puluhan juta. Karena menurut saya orang-orang besar yang revolusioner, pasti berani berani ambil resiko dan meninggalkan comfort zone mereka. Nah kalo saya selamanya jadi karyawan, berarti saya udah terlena dengan comfort zone saya.

Mungkin saya terlalu idealis. Tapi bukankah saat seperti ini adalah saat yang paling tepat untuk bermimpi setinggi-tingginya?
Kalopun salah, saya tidak akan menyesal. Karena ini adalah waktunya berbuat kesalahan sebanyak-banyaknya. Masih muda, belum punya tanggungan apa-apa, kenapa harus takut?

Jadi......... yuk rame-rame tekuni apa yang menjadi passion kita. Kalo suka bola, latihan yang rajin biar jadi Bambang Pamungkas baru. Kalo pengen jadi sutradara, usaha terus sampe melebihi Joko Anwar. Kalo mau jadi ilmuwan ya sekolah yang tinggi biar bisa ngalahin B.J Habibie.

Jangan takut gak bisa hidup, jangan takut masa depan suram, jangan mau dipaksa melakukan apa yang sebenernya kita gak suka, jangan membatasi diri, JANGAN MAU JADI ROBOT!

Karena ini hidup kita dan ini adalah petualangan kita!





Saturday, January 7, 2012

Selamat Datang di Tempat Terakhir

Kemaren gue baru ngeliat Facebook dari orang yang baru saja meninggal dunia.
Apa yang gue lihat disana amat memilukan. Ada seorang yang menulis, "Lo bilang abis pulang dari sana lo mau ke rumah gue... gue gak nyangka lo gak bisa kesini lagi. Selamat jalan kawan.. :(" Lalu ada juga yang menulis "masih kebayang jailnya lo. Semoga semua amal dan kebaikan lo diterima Allah SWT... Amin"

Dan berbagai macam ungkapan duka cita lain.

Gue tidak mengenal almarhum, tapi apa yang tertulis disana cukup membuat gue terharu dan sedih.

Ada seorang temen gue yang meninggal setahun lalu. Dan beliau sudah gue anggap seperti abang sendiri. Beliau adalah orang yang sangat sangat sangat baik. Sepanjang gue kenal, gak pernah sekalipun beliau bikin gue kesel atau marah.
Sampe sekarang, gue masih ga sanggup buka Facebook nya. Takut sedih lagi soalnya.
Mungkin gue terlalu lebay atau gimana kali yaa... hehehehe....

Tapi, hal-hal kaya gitu yang bikin gue bertanya-tanya, seperti apa gue nanti saat gue harus meninggalkan dunia?

Gue bukan manusia yang baik hati seperti Bunda Theresa.
Gue bukan sosok tampan seperti Brad Pitt.
Gue bukan orang yang jenius seperti Albert Einstein.
Dan yang pasti, gue bukan orang yang sholeh layaknya Ustadz Solmed.

Apa yang orang-orang pikirkan ketika mereka menghantar gue ke peristirahatan terakhir?
Apakah yang datang banyak? Apakah mereka sedih?
Apakah mereka merasa kehilangan? Apakah mereka benar-benar ikhlas mendoakan gue?

Kita bisa tahu bagaimana seseorang menjalani hidupnya berdasarkan apa yang terjadi saat pemakamannya.

Orang yang baik adalah orang yang diingat oleh banyak orang karena perbuatannya.
Orang yang baik adalah orang yang ketika dia pergi, dia meninggalkan senyum penuh arti pada orang-orang yang ditinggalkan ketika mereka mengenangnya.
Orang yang baik adalah orang yang ketika tiba pemakamannya, orang-orang berduyun-duyun datang untuk mengantarkannya ke tempat terakhir.

Saat menulis ini gue sadar kalo gue harus menjalani hidup ini sesuai yang gue mau. Jadi diri sendiri dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang gue sayang. Gue harus bikin bangga keluarga gue, terutama orang tua. Gue harus selalu ada buat sahabat-sahabat gue. Gue harus raih semua cita-cita gue. Sehingga saat gue harus pergi, gak ada penyesalan yang menghantui. Gak ada sesuatu yang mengganjal. Jadinya gue bisa pergi dengan tenang.

Jika pada saatnya nanti gue ditanya, "sudah siapkah kau untuk pergi?" , gue akan menjawab dengan mantab, "Saya siap, silahkan ambil ruh saya. Saya memang punya banyak dosa, tapi saya telah menjalani hidup saya seperti yang saya inginkan. Kalo pun ada yang benci saya, saya akan terima. Karena saya sadar kalo saya gak mungkin memuaskan semua pihak."

Kita semua pasti akan meninggal.

Sekarang pertanyaannya, seperti apa kita mau dikenang oleh orang lain?








Let's Play