Friday, March 16, 2012

Ketika Senja

Kita terlalu sombong.
Kita terlalu sering menghakimi.
Kita terlalu sering menghujat.
Kita terlalu sering menjelekkan.
Dan kita terlalu lama hidup dalam kenyamanan akan segala hal diatas.

Sesungguhnya manusia adalah mahluk yang lemah.
Mahluk yang bodoh.
Mahluk yang penuh kesalahan.
Mahluk yang saling menyakiti.
Mahluk yang tidak bersyukur.
Dan kita tetap kukuh mempertahankan semua hal diatas, yang semestinya bisa diubah.

Apa yang harus ku lakukan? Apa yang harus ku ubah?

Untuk apa aku hidup? Untuk saling menyakiti? Untuk memenuhi semua ambisi? Untuk berguna bagi orang lain? Untuk memamerkan kehebatan masing-masing? Untuk tertawa dalam sunyi? Untuk bersedih dalam bingar?

Apa makna kehadiranku bagi orang lain? Agar mereka tertawa? Agar mereka bisa membandingkan dengan dirinya? Agar mereka bisa menghina? Agar mereka punya tempat berbagi? Agar mereka bisa menjadikanku alat? Agar mereka tahu bahwa ada manusia dengan sifat seburuk ini? Atau justru tidak ada makna apa-apa?

Untuk apa manusia diciptakan?

Manusia adalah mahluk yang unik. 5 milyar jumlahnya, tak ada satupun yang benar-benar sama. Setiap organ yang ada, setiap sel-sel yang bekerja, setiap zat yang terbentuk, setiap roh yang ditiupkan, dan setiap wujud yang ditampakkan, memiliki perhitungan yang sangat matang dan terperinci. Sungguh, profesor paling hebat di jagad raya juga tak akan bisa menandingiNya.

Kok bisa-bisanya merasa lebih hebat dari orang lain. Kok bisa-bisanya merasa superior. Kok bisa-bisanya menghakimi sesama. Kok bisa-bisanya pamer ini, pamer itu. Kok bisa-bisanya merasa yang paling tahu.

Kita sungguh berbeda. Sungguh-sungguh berbeda.
Namun, aku mulai paham kenapa manusia diciptakan berbeda. Untuk saling mengisi. Untuk saling memahami. Untuk saling mencintai. Untuk saling mengerti.

Pergolakkan sesama manusia pasti akan hadir selamanya. Namun aku percaya, jika kita bisa memahami maksud Semesta menciptakan kita, semua akan lebih jernih.

Sebelum menghakimi dan menjatuhkan, lebih baik sadari bahwa kita tak lebih dari debu.

Semestinya, setiap dari kita menilai sesuatu dengan biasa-biasa saja. A dan B. Baik dan buruk. Hitam dan putih. Benar dan salah. Semuanya tak ada yang hakiki.

Ada dan tak ada pun tak hakiki.
Yang ada cuma jiwa manusia yang tersesat dalam kebodohan yang dibuatnya sendiri.

Terima saja, kita adalah individu yang menyedihkan.
Karena terlalu sering berbicara tanpa hati. Melihat tanpa mendengar. Dan bertindak tanpa akal.

Maafkan aku, Semesta.

Wednesday, March 14, 2012

15 Menit Lagi

Waktu nulis ini, saya lagi sendirian di kantor. Penunjuk jam di pojok kanan atas komputer saya menunjukkan angka 4:46 pagi. Di kantor selarut ini, ngapain? Saya dan kedua orang copywriter lainnya sedang mengerjakan presentasi yang akan di presentasikan jam 11 pagi ini. Mereka sudah lelap, saya masih seger. Efek sering begadang. Hehehe...

Wah sudah jam 4:48, itu berarti waktu saya tersisa 12 menit lagi untuk bercerita.
Ini hari kedua berturut-turut saya lembur, dan anehnya saya tidak merasakan penderitaan apapun. Saya tidak merasa ini berat, saya tidak merasa ini menjengkelkan. Mungkin inilah yang dimaksud oleh Confusius dalam salah satu quote-nya, "Choose a job you love and you will never have to work a day in your life".

Ah, diantara suara keyboard dan exhaust fan yang saling menindih. Dikala fajar mulai mengintip untuk memamerkan sinarnya, saya temukan sekeping kebahagiaan. Dan ini adalah perasaan yang menyenangkan. Terima kasih semesta.

Jam menunjukkan angka 4:57, ini saatnya saya membangunkan mereka. Ini saatnya saya pulang ke rumah untuk melebur dalam nyamannya kasur. Sampai jumpa.


Wednesday, February 29, 2012

Dididik untuk jadi Robot

Saya ingat sekali masa-masa SMA saya. Bebas dan penuh tawa.
SMA kata orang-orang adalah masa yang paling indah. Penuh liku untuk menemukan jati diri. Sebuah masa yang penting, karena menjadi pijakan psikologis sebelum terjun di masyarakat. Saya sangat suka masa SMA saya.
Well, kecuali pendidikannya.

Sadar gak sih kalo selama ini pendidikan formal kita tuh gak bener?
Contohnya, kita dituntut untuk menguasai pelajaran-pelajaran yang kita tidak sukai. Guru aja gak bisa nguasain semua ilmu. Coba saya tanya, ada gak guru SMA kalian yang ngajarin matematika, biologi, fisika, penjas, sekaligus? Gak mungkin ada kan? Jadi, kenapa kita dituntut untuk nguasain semua ilmu? Buat apa nguasain banyak pelajaran di SMA? Materi pelajaran sebanyak itu hanya berguna di pendidikan dasar. Setelah melewati pendidikan dasar juga akan terlihat kok minat orang tersebut di bidang apa.

Saya paling gak suka sama matematika. Karena pada dasarnya saya gak suka itung-itungan. Jadi, gak heran kalo nilai matematika saya di rapot SMA gak pernah bagus. Lah wong saya gak suka, kok tetep di jejelin! Ya gak bakal masuk dong. Terus karena matematika saya jelek, saya di cap sebagai murid yang bodoh. Hahaha kalo diinget-inget sekarang sih saya pengen ketawa aja. Buktinya ilmu itu gak ada yang kepake di bidang yang saya geluti sekarang.

Terus saya inget banget kalo dulu temen-temen saya berbondong-bondong pengen masuk IPA. Katanya jurusan IPA tuh jurusan buat murid-murid pinter doang, prestise-nya tinggi, gampang masuk universitas negeri dan alasan-alasan lainnya. Saya sih emang gak pernah minat sama IPA. Bagi saya, IPA membosankan. Dan, saya emang gak pernah suka sama ilmu pasti. Maka masuklah saya di jurusan IPS.

Semua juga tau lah kalo jurusan IPS agak di anak tirikan, bahkan oleh sekolah dan guru-gurunya. "Anak IPA pinter-pinter. Anak IPS bego-bego! Anak IPA soleh semua! Anak IPS bejat-bejat!" Itu tuh sterotype yang bikin kita semua gak maju. Saya sih gak peduli mau dibilang bego apa gimana, lah orang saya gak suka kenapa saya harus maksa buat masuk IPA? Eh ternyata anak-anak IPA di sekolah saya kuliahnya banyak yang gak nyambung sama jurusannya. Sia-sia banget gak sih?

Belom lagi sejak SD kita sudah di seragamkan. Mau buktinya? Waktu SD kita pasti di suruh bikin gambar gunung. Coba bandingkan, gambar kita pasti mirip kan satu sama lain? Ada gunung, jalan raya, matahari di tengah gunung, sawah hijau di sekitar jalan, dan burung yang berterbangan. Kenapa bisa gitu? Karena guru-guru mengajarkan itu! Kalo ada yang salah atau tidak seperti yang di ajarkan, guru kita akan marah. "Langit itu biru!" "Gunung itu bentuknya seperti ini!" "Matahari itu bulat!" "Sawah berwarna hijau!" dll. Jika ada anak yang menggambar matahari bentuknya kotak, atau langit berwarna hijau, pasti di-cap salah dan diberi nilai jelek. Aneh ya?

Sadar gak kalo dari dulu kita dididik untuk mengikuti pola ini: sekolah -> kuliah -> kerja jadi karyawan -> nikah -> mati.
Gak pernah tuh saya diajarin untuk jadi wiraswasta. Atau diajarin gimana caranya mengatur perusahaan sendiri.
"Kamu sekolah yang bener, biar pinter, biar dapet universitas yang bagus jadi kamu gampang nyari kerja. Kalo kamu udah kerja di perusahaan besar itu berarti kamu udah sukses." Pasti gak asing kan sama kata-kata diatas? Kayaknya hampir semua anak di Indonesia yang 1 generasi sama saya ngalamin yang serupa.

Saya tidak bilang itu buruk, namun omongan tadi adalah hasil "cuci otak" jaman orde baru. Karena definisi sukses kala itu adalah dapet kerja di perusahaan. Sebuah hal yang wajar, mengingat saat orde baru Indonesia membutuhkan banyak pekerja untuk membangun perekonomian. Sehingga orang-orang pada masa itu dididik untuk jadi karyawan hebat. Dan untuk diterima menjadi karyawan pada saat itu sangat sulit. Akhirnya timbul mindset bahwa orang yang mampu bekerja di perusahaan besar atau instansi pemerintah yang bergengsi, di cap sebagai manusia yang memiliki derajat tinggi.

Mindset kuno: Bekerja selamanya jadi karyawan adalah sebuah hal yang menjajikan masa depan cerah. Pensiun terjamin. Keluarga sejahtera. Hidup bahagia.
Mindset ini di wariskan turun temurun hingga generasi orang tua kita. Sehingga banyak orang yang terpaksa menjalani hidupnya dengan mindset seperti itu. Banyak orang yang sebenernya gak suka dengan pekerjaannya, namun terpaksa bekerja karena mindset itu.
Banyak orang yang jadi robot.

Bagi saya tidak seperti itu. Bagi saya kebahagiaan adalah menjalani apa yang kita suka dengan tekun dan sungguh-sungguh, sehingga kita dapat value dari apa yang kita kerjakan.
Love first, money will follow. Saya percaya jika saya mengerjakan apa yang saya sukai dan menjadi passion saya dengan sungguh-sungguh, sukses akan mengikuti dengan sendirinya. Saya lebih baik bekerja dengan gaji yang kecil tapi bahagia, daripada bekerja dengan gaji yang besar namun tidak bahagia. (Dan betapa beruntungnya saya, di tempat kerja sekarang saya dapat keduanya: kerjaannya menyenangkan dan gajinya pun lumayan).

Banyak kok orang-orang yang menekuni apa yang disukainya dan sukses, beberapa diantara mereka bahkan gak lulus kuliah. Bill Gates, Mark Zuckerberg, Sean Parker, Bob Sadino, Hendy Setiono, Andy. F. Noya adalah beberapa diantaranya.

Generasi kita harus lebih maju daripada generasi sebelumnya. Jadi semestinya mindset generasi kita seperti ini: sekolah -> kuliah -> jadi karyawan -> cari pengalaman dan koneksi -> membuka usaha sendiri -> nikah -> mati

Saya lebih memilih menjadi wiraswasta yang memiliki usaha sederhana, daripada jadi karyawan perbankan bergaji puluhan juta. Karena menurut saya orang-orang besar yang revolusioner, pasti berani berani ambil resiko dan meninggalkan comfort zone mereka. Nah kalo saya selamanya jadi karyawan, berarti saya udah terlena dengan comfort zone saya.

Mungkin saya terlalu idealis. Tapi bukankah saat seperti ini adalah saat yang paling tepat untuk bermimpi setinggi-tingginya?
Kalopun salah, saya tidak akan menyesal. Karena ini adalah waktunya berbuat kesalahan sebanyak-banyaknya. Masih muda, belum punya tanggungan apa-apa, kenapa harus takut?

Jadi......... yuk rame-rame tekuni apa yang menjadi passion kita. Kalo suka bola, latihan yang rajin biar jadi Bambang Pamungkas baru. Kalo pengen jadi sutradara, usaha terus sampe melebihi Joko Anwar. Kalo mau jadi ilmuwan ya sekolah yang tinggi biar bisa ngalahin B.J Habibie.

Jangan takut gak bisa hidup, jangan takut masa depan suram, jangan mau dipaksa melakukan apa yang sebenernya kita gak suka, jangan membatasi diri, JANGAN MAU JADI ROBOT!

Karena ini hidup kita dan ini adalah petualangan kita!





Saturday, January 7, 2012

Selamat Datang di Tempat Terakhir

Kemaren gue baru ngeliat Facebook dari orang yang baru saja meninggal dunia.
Apa yang gue lihat disana amat memilukan. Ada seorang yang menulis, "Lo bilang abis pulang dari sana lo mau ke rumah gue... gue gak nyangka lo gak bisa kesini lagi. Selamat jalan kawan.. :(" Lalu ada juga yang menulis "masih kebayang jailnya lo. Semoga semua amal dan kebaikan lo diterima Allah SWT... Amin"

Dan berbagai macam ungkapan duka cita lain.

Gue tidak mengenal almarhum, tapi apa yang tertulis disana cukup membuat gue terharu dan sedih.

Ada seorang temen gue yang meninggal setahun lalu. Dan beliau sudah gue anggap seperti abang sendiri. Beliau adalah orang yang sangat sangat sangat baik. Sepanjang gue kenal, gak pernah sekalipun beliau bikin gue kesel atau marah.
Sampe sekarang, gue masih ga sanggup buka Facebook nya. Takut sedih lagi soalnya.
Mungkin gue terlalu lebay atau gimana kali yaa... hehehehe....

Tapi, hal-hal kaya gitu yang bikin gue bertanya-tanya, seperti apa gue nanti saat gue harus meninggalkan dunia?

Gue bukan manusia yang baik hati seperti Bunda Theresa.
Gue bukan sosok tampan seperti Brad Pitt.
Gue bukan orang yang jenius seperti Albert Einstein.
Dan yang pasti, gue bukan orang yang sholeh layaknya Ustadz Solmed.

Apa yang orang-orang pikirkan ketika mereka menghantar gue ke peristirahatan terakhir?
Apakah yang datang banyak? Apakah mereka sedih?
Apakah mereka merasa kehilangan? Apakah mereka benar-benar ikhlas mendoakan gue?

Kita bisa tahu bagaimana seseorang menjalani hidupnya berdasarkan apa yang terjadi saat pemakamannya.

Orang yang baik adalah orang yang diingat oleh banyak orang karena perbuatannya.
Orang yang baik adalah orang yang ketika dia pergi, dia meninggalkan senyum penuh arti pada orang-orang yang ditinggalkan ketika mereka mengenangnya.
Orang yang baik adalah orang yang ketika tiba pemakamannya, orang-orang berduyun-duyun datang untuk mengantarkannya ke tempat terakhir.

Saat menulis ini gue sadar kalo gue harus menjalani hidup ini sesuai yang gue mau. Jadi diri sendiri dan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang gue sayang. Gue harus bikin bangga keluarga gue, terutama orang tua. Gue harus selalu ada buat sahabat-sahabat gue. Gue harus raih semua cita-cita gue. Sehingga saat gue harus pergi, gak ada penyesalan yang menghantui. Gak ada sesuatu yang mengganjal. Jadinya gue bisa pergi dengan tenang.

Jika pada saatnya nanti gue ditanya, "sudah siapkah kau untuk pergi?" , gue akan menjawab dengan mantab, "Saya siap, silahkan ambil ruh saya. Saya memang punya banyak dosa, tapi saya telah menjalani hidup saya seperti yang saya inginkan. Kalo pun ada yang benci saya, saya akan terima. Karena saya sadar kalo saya gak mungkin memuaskan semua pihak."

Kita semua pasti akan meninggal.

Sekarang pertanyaannya, seperti apa kita mau dikenang oleh orang lain?








Tuesday, December 6, 2011

Perut



Coba perhatikan gambar diatas.
Apa yang terlintas di pikiran ketika pertama kali Anda melihat gambar tersebut?
Laper, kenyang, gendut, kurus, kerempeng, buncit, six pack?
Bagi saya, yang pertama kali terlintas saat melihat gambar tersebut adalah huru hara.
Ya, huru hara.

Ngaco? Mungkin.
Terlalu mengada-ngada? Mungkin juga.

Tapi saya punya alasan mengapa saya berkata seperti ini.
Karena perut memegang peranan penting dalam berbagai macam keributan dan kerusuhan yang terjadi negeri saya, Indonesia.

Saya coba menganalisa berbagai macam peristiwa kerusuhan yang terjadi. Dan saya mendapatkan beberapa kesamaan pada hal tersebut.

1. Orang-orang yang terlibat dalam kejadian tersebut bermuka ganas.
2. Mereka hilang kendali. Berteriak terus menerus dan merusak fasilitas adalah beberapa tindakan yang sering mereka lakukan.
3. Mereka bergerak berkelompok. Kompak namun kurang teratur.
4. Beringas dan brutal. Dan emosi semakin menambah kadar keberingasan mereka.

Dan, tahukah kawan apa yang menyebabkan mereka seperti itu?
Perut. Saya harus mengatakannya sekali lagi. Itu semua karena perut.

Jangan mengerenyitkan dahi seperti itu kawan.
Saya tidak berbohong.

Sekarang, coba kita analisa lagi.

Manusia diciptakan dengan berbagai macam kebutuhan. Dari berbagai macam kebutuhan itu terdapat 3 kebutuhan yang wajib dipenuhi, yaitu sandang, pangan, papan. Namun hanya ada 1 kebutuhan yang paling pokok dari dari 3 kebutuhan tersebut, yaitu pangan.

Ketika manusia tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya, dia akan merasa lapar. Dan ketika lapar, manusia cenderung akan menjadi uring-uringan.

Orang-orang yang lapar, bertindak dengan insting.
Orang-orang yang lapar, sangat mudah disulut emosinya.
Orang-orang yang lapar, (kadang) terlihat seperti hewan.

Coba Anda bayangkan kondisi seperti ini:

Kondisi pertama
Anda sedang dalam keadaan lapar sekali dan Anda sedang berjalan mencari makan di sebuah jalan besar. Akhirnya Anda menemukan sebuah restoran dan Anda makan di sana. Selesai makan Anda berjalan keluar untuk kembali beraktivitas. Tiba-tiba seseorang menyenggol tubuh Anda dan dia cuek saja sambil terus berlalu. Apa yang Anda lakukan terhadap orang tersebut? Paling-paling Anda hanya akan berteriak, "Woy kalo jalan yang bener dong!"

Kondisi kedua
Anda sedang dalam keadaan lapar sekali dan Anda sedang berjalan mencari makan di sebuah jalan besar. Akhirnya Anda menemukan sebuah restoran dan ketika Anda berjalan kedalam, tiba-tiba seseorang menyenggol tubuh Anda dan dia cuek saja sambil terus berlalu. Apa yang Anda lakukan terhadap orang tersebut?
Tarohan sama saya, Anda pasti langsung ingin menghajarnya!

Ketika kita mampu memenuhi kebutuhan, kita merasa puas dan tenang. Sehingga kita mampu berpikir rasional.

Namun, ketika kita tidak mampu memenuhi kebutuhan, ada ketidakpuasan dalam diri kita sehingga kita lebih mengikuti insting hewan kita.
Dan, itulah yang terjadi ketika kita lapar.

Jika saja sebagian besar manusia di negeri ini punya perut yang kenyang, saya berani bertaruh apa saja dengan Anda, bahwa kerusuhan, huru-hara, kekacauan dan berbagai tindakan destruktif lainnya pasti tidak akan terjadi. Atau minimal akan berkurang jauh.

Sayangnya, kondisi di negeri in i justru sebaliknya. Banyak manusia yang kelaparan, banyak manusia yang perutnya kosong sehingga membuat mereka berpikir dan bertindak mengikuti insting hewannya. Oleh karena itu di negeri saya, setiap hari banyak kerusuhan dan kekacauan.

Yah, begitulah teori saya. Setuju atau tidak, itu terserah Anda.

Sebaiknya saya mengakhiri post ini karena perut saya sudah keroncongan.
SELAMAT MENGISI PERUT :)








Friday, November 25, 2011

A Journey for a Lifetime

Semua orang pasti punya 1 tempat yang ingin dikunjungi selagi masih hidup. Entah untuk sekedar liburan, menunaikan kewajiban, atau untuk menetap.

Jika gue ditanya, "tempat mana yang pengen lo kunjungi selagi masih hidup dan diberi kesempatan?" Maka gue akan dengan mantap, tegas, dan berwibawa, bakal jawab: Old Trafford Stadium, Manchester.

Old Trafford adalah stadion milik Manchester United, sebuah klub sepakbola yang gak perlu gue jelasin lagi. (kalo lo gak tau, maka gue asumsikan lo baru pulang dari gunung)
Old Trafford terletak di pinggiran kota Manchester. Alamat lengkapnya di Sir Matt Busby Way, Old Trafford, M16 ORA. Stadion ini adalah stadion terbesar kedua di Inggris dengan kapasitas sekitar 76.000 penonton. Kerennya lagi, stadion ini punya nickname"Theatre of Dreams"
(untuk informasi lain tentang stadion ini, silahkan googling saja ya)

Di stadion ini ada layanan Stadium Tour, dimana kita
dipersilahkan untuk keliling stadion bersama seorang tour guide dengan membayar tarif tertentu. Ada beberapa tempat yang wajib dikunjungi, seperti Manchester United Museum, ruang ganti pemain, Reds Cafe, Megastore, dll.
Stadium Tour ini bagaikan Heaven Tour buat gue.

Dan ini adalah beberapa foto yang menunjukan kemegahan dan keindahan stadion ini:



View dari atas. Asoy kan...

Patung Sir Matt Busby

Patung 3 pemain legendaris United. The Holy Trinity

An evening at Old Trafford :)

Ruang ganti pemain

Megastore

Pemandangan saat malam hari

Suatu hari nanti, gue akan ada diantara mereka :)

Alasan gue pengen banget kesini adalah karena gue penggemar Man United. Dan untuk menonton langsung klub kebanggan gue bermain di kandangnya adalah sebuah kewajiban yang gak bisa ditawar lagi. Ya, bagi gue pergi ke Old Trafford bagaikan pergi Umrah ke tanah suci. Gue yang sedari kecil udah jadi penggemar United merasakan fase-fase berubahnya keinginan menjadi sebuah kewajiban yang harus terpenuhi. Hati sudah mantap, tekad sudah bulat, ini adalah panggilan buat gue! Gue harus untuk nonton langsung United bertanding di Old Trafford!

Tekad ini semakin besar dan mengebu-gebu setelah kepulangan sahabat gue dari Old Trafford beberapa waktu lalu. (Damn you lucky bastard!)
Bahkan gue sampe bikin deklarasi sama beberapa sahabat penggemar Chelsea dan Liverpool untuk bersama-sama pergi ke Inggris dan menikmati pertandingan di stadion kebanggaan masing-masing dalam kurun waktu 5 tahun lagi. It means, gue akan pergi kesana paling lambat tahun 2016!

Entah apa jadinya nanti, yang pasti ga ada salahnya kan buat bermimpi dan punya harapan? Toh hal kaya gini gak ada ruginya sama sekali. Justru akan jadi motivasi. (Oke, gue mesti stop sebelum tulisan gue berubah jadi seperti motivator yang sedang berkhotbah di depan audiensnya)

Jadi, untuk mengakhiri post ini,
Tempat mana yang pengen lo kunjungi selagi masih hidup dan diberi kesempatan?









Thursday, November 24, 2011

Oleh - oleh dari OSLO - Kembali

Post dibawah ini adalah catatan perjalanan gue waktu ke Solo akhir 2010 kemarin. Terbagi dari 2 bagian, Melanglang dan Kembali. Sengaja ditulis di blog ini biar blog ini post-nya nambah (iya, gue tau gue emang males). Enjoy!

Karam

Keruh, samar-samar, tak tentu arah.
Aku melaju di tempat yang benar atau salah?

Berdesing, berisik, menderu.
Nampaknya roda kereta sedang bercinta dengan jalurnya.

Aneh, tidak biasa, absurd.
Perasaan ini, Aku rasa mereka sedang mengintip di balik jendela.

Terjun, ke lubang yang paling dalam, hampa.
Saat ini Aku hanya tau satu, lelahku tak sanggup melawan sepiku.

Senja Utama, 22-10-2010. 19.29


Persembahan bagi Para Penerjang Hari

Mereka berlalu lalang menjajakan semuanya...
Kripik tempe, sale' pisang, getuk.
Setiap hari mereka berjuang hebat,
mencari kepingan rezeki di tengah kondisi yang tak pasti.

Lalu, kemana mereka akan melangkah?
Keluar gerbong yang sesak ini?
Atau malah ikut serta ke pemberhentian berikutnya?

Aku tak tahu pasti,
Namun yang bisa kukatakan adalah,
mereka lebih mulia dibandingkan sekumpulan manusia necis di Senayan sana.

Kegigihan mereka tidak akan berhenti.
Bahkan hingga nanti kereta ini tiba di Jakarta.
Karena bagi mereka,
hidup tidak semudah kereta yang jalurnya hanya lurus saja.

Senja Utama, 22-10-2010. 22.25

Oleh - oleh dari OSLO - Melanglang

Post dibawah ini adalah catatan perjalanan gue waktu ke Solo akhir 2010 kemarin. Terbagi dari 2 bagian, bagian Melanglang sama bagian Kembali. Sengaja ditulis di blog ini biar blog ini post-nya nambah (iya, gue tau gue emang males). Enjoy!


The Rail is My Only Friend

On the night like this
Sitting on this seat
It's all black outside
I'm feeling alone

Where are you now?
I am searching for a light
Light that never turn off,
im searching for you
But nothing, i found nothing

This train make some weird noise
But the noise is warm and comfort
Still, i'm feeling empty inside
Yeah, the rail is my only friend

Senja Utama, 18-10-10. 21.15

Catatan Orang yang Bertamu

Deru kereta menggebu - gebu.
Membantai jalanan lurus yang semu.
Esok pagi Aku akan jadi tamu.
Di kota Oslo kita akan bertemu.

Malam, gelap, hitam pekat.
Tak ada satu pun yang mendekat.
Mungkin karena semua sudah penat.
Menghadapi dunia yang laknat.

"Perjalanan ini terasa sangat menyedihkan"
Ah, itu hanya sajak lagu tertinggal jaman.
Kenyataanya perjalanan ini menyenangkan.
Sudahlah kawan, mari tertawa, hidup tak usah dihiraukan!

Senja Utama. 18-10-2010. 21.54

Tiba

Pagi, selimut mimpi telah pergi.
Kabut dan asap datang silih berganti.
Dan disinilah aku berdiri.
Di tempat yang ramai, namun masih terasa sunyi.

Ah, inilah Indonesia-ku.
Tempat aku lahir, bernapas dari paru - paru.
Lukisan kuas mahakarya dari-Mu.
Sungguh beruntung aku bisa merasakan dengan sekujur tubuhku.

Kereta ini sedikit lagi berhenti.
Tapi tidak untuk yang terakhir kali.
Masih banyak petualangan yang ingin aku lalui.
Dan benar, aku ingin hidup seribu tahun lagi!

Senja Utama, 19-10-2010. 05.43

Wednesday, November 23, 2011

Untuk Pecinta dari Sang Dicinta

Halo, apa kabar?
Mungkin kamu baik-baik saja.
Aku disini juga begitu. Saat ini aku sedang menikmati saat-saat terindah dalam hidupku.
Punya banyak teman, dikelilingi orang-orang yang aku sayang. Dan aku sedang mengejar mimpiku.

Aku tahu kita tidak pernah berjumpa lagi di kehidupan nyata. Namun di dunia maya aku tahu, kamu sering mengintip Facebook dan timeline ku. Aku tak pernah keberatan. Aku juga tak keberatan jika kamu memanggilku dengan sebutan, "My Light".
Namun, aku selalu bingung jika kamu mulai me reply twit ku dengan penuh perhatian atau memberi komentar pada foto-foto di Facebook ku dengan pujian. Aku hanya bisa bertanya-tanya sendiri, "apa maksud orang ini?" Dan beberapa kali aku tak membalas twit mu, karena aku terlalu bingung. Kamu tentu paham bahwa kita tak mungkin kembali seperti dulu.

Waktu berlalu. Semua sudah berubah. Kamu harus mengerti bahwa aku telah punya kehidupan sendiri.

Aku ingat beberapa kenangan yang telah kita jalani bersama. Namun, itu hanya kenangan. Tak ada yang istimewa dari itu semua. Jangan pernah memposisikan diriku sebagai diriku yang dulu. Jangan selalu terpaku dengan masa lalu. Masa lalu hanya membuat kita lemah.

Aku berterima kasih atas semua yang sudah kau lakukan. Dan seperti doamu padaku, aku juga berharap kau selalu bahagia.

ps: Terimakasih atas sesuatu yang kau berikan di hari bahagia itu. Walau tak ada namanya, aku selalu tahu bahwa itu pemberianmu.



Wednesday, January 6, 2010

First Trip of the Year : Ujung Genteng

Sebelumnya mau ngucapin Selamat Tahun Baru 2010 semua!!Semoga kita diterima di sisi Nya.. Lho?
Oke, gw ada kabar baik dan buruk yg ingin disampaikan..
Kabar baiknya adalah , gw udh libur smesteran dan kabar buruknya adalah , udel gw semakin melebar... hahahahahaha ga lah. kabar buruknya adalah gw mulai bosan dgn liburan ini..
hmmmm tp untungnya sebelum gw berkerak , gw sempet jalan jalan ke ujung genteng.
bgi yg blm tau ujung genteng, silahkan nanya mbah google.
jdi gw melakukan perjalanan ke UG bersama ke 6 teman gw. kita berangkat hari jumat dan pulang hri senin dini hari. sebelum ke ujung genteng, kita transit dulu di rmh gw yg di sukabumi. nah baru abis itu ke ujung genteng. di sukabumi kita bermalam 1 malam dan bru pd jam 12 siang kita brgkt ke ujung genteng. perjalanan menempuh waktu 4 jam. medan nya berat bgt, jalan menuju kesana juga sempit dihimpit dengan jurang di kiri kanan. untung yg nyetir lulusan sekolah setir juliana jaya, jdi udh gape bgt. nah sesampainya di ujung genteng, kami mesti jalan lgi kira2 2 km buat ke pantai yg bgus bgt, namanya pantai cibuaya. disitu ada penangkaran penyu yg udh dikenal byk orang. sampe sana kita lgsung berenang dan foto2. ini beberapa hasil fotonya:







gmana ? mantep abissss itu pantainya.. gokill..
nah kesengsaraan bermula di malam hari, ketika itu aku dan mas bondan kehujanan sehingga jd basah kuyup.... lahhhh knp jd stensilan gni yahh?hahahaha...
tp beneran deh maem hrinya tuh sengsara bner,kita dpt tmpt buat tidur aja udh sukur deh tuh.walaupun tmtpnya ga bonafit tp gpp lah asal rame2.. jdi di pantai cibuaya itu tmptnya terpencil,jauh dr mana2..dan disitu cm ada warung kecil yg hanya menjual POP MIE..
sebuah cobaan terbesar utk kami yg gila nasi...
kami menghabiskan waktu dengan bermain gitar dan bersenda gurau ditemani kopi dan autan.
pada pukul 3 dini hari kami memutuskan utk ke pantai melihat bintang dan merasakan deburan ombak serta angin pantai yg romantis.. sayang , tidak ada wanita disana.. tpi suasananya enak abis, bintangnya keliatan bgt.. ga kaya di jakarta yg terlalu byk polusi..
keesokan harinya kami memutuskan pulang ke sukabumi... kami pulang jam 11 dan sampai di sukabumi jam 5.. perjalanan jdi lbh lama karena kita berhenti utk foto2 karena di sepanjang perjalanan byk tmpt2 yg keren bwt foto.
nah di sukabumi sendiri sih praktis ga ada kegiatan apa2 krn udh pd capek duluan.. rencana bwt ke bukit rzt pun gagal krn hari sdh terlalu sore...
kami pulang dri sukabumi ke jakarta pada jam 3 dini hari, krn jam2 segitu jalanan sepi bos sehingga waktu tempuh jd lebih cepat..terbukti dgn hanya 2 jam saja, kami sudah sampai di jakarta..
hmmm... pokonya liburan kmrn mantap lah , pantainya gokil dan sepanjang jalan juga byk spot2 yg bgus buat foto2.
oke deh segitu dulu ceritanya, hmmm rencana nya sih minggu depan mau touring ke bandung nih naek motor. mudah2 an jadi.. biar ga bosen juga di rumah!!
sip lah gw caw dulu yah ..
bye bye ...